Sallary

Gaji Naik? Jangan Senang Dulu

Pertanyaan : Apa reaksi yang paling umum saat gaji naik?

Ya, Senang dong!!! (tiga tanda seru bertanda bahwa senang banget)

 

Yup! Gaji naik, karyawan pastilah merasa sangat senang hatinya. Langsung terbayang dalam pikiran adalah hm.. biasanya kredit bisa dilunasi lebih cepat, ataupun barang-barang yang tadinya hanya impian, bisa saja akan terbeli. Bisa juga berbagai rencana pembelian akan segera bisa direalisasikan.

Nah, justru disitulah timbul masalah.

Anthony dio martin The best EQ trainer Indonesia pernah menyebut ini dengan satu istilah : EFEK MORFIN.

Kalau dipikir-pikir, memang benar adanya.

Jika kita mendapatkan sesuatu kita merasa senang, tetapi itu hanya sementara. Setelah itu, kita menginginkan yang lebih banyak lagi.

Yes, mirip seperti orang yang kecanduan deh. Awalnya, dengan dosis kecil saja mereka sudah cukup di buat fly. Tapi, tubuhpun kemudian mulai menyesuaikan. Lantas, tubuh sudah siap meminta dosis yang lebih besar lagi. Akhirnya, dosis yang dulunya dianggap cukup besar, kini tida memadai lagi.

Itulah efek morfin!

Hmm… hal ini juga berlaku saat gaji kita naik sebenarnya.

Awalnya, kita merasa bahagia, suka cita.

Lantas, apa yang terjadi adalah kebutuhan dan pengeluaran kitapun menyesuaikan.

Akhirnya, kitapun mulai sering menganggap merasa kurang. Dan muncul tuntutan untuk meminta gaji yang lebih tinggi lagi. Hehe.. sama kan seperti efek morfin tadi.

 

Jadi, Gaji nggak boleh naik nih?

Tentu saja boleh dong. Bahkan, sejalan dengan waktu, yang namanya gaji haruslah naik.

Namun, tentu saja gaji naik karena banyak alasan. Pertama, bisa karena inflasi. Kebutuhan hidup semakin meningkat.

Kedua, Karena perusahaan membaik. Layak deh kalau karyawanpun diapresiasi. Sudah menjadi tugas pemilik usaha sih sebenarnya. Dan tatkala bisnis makin baik, mestinya mereka peduli dengan karyawan yang selama ini membuat semua usahanya bisa membaik. Namun sebaliknya, karyawan harus bisa memahami, jika bisnis sedang merugi atau susah. Mestinya karyawanpun bisa paham bahwa sulit untuk menaikkan gaji mereka secara “signifikan”. Hehehe.. mungkin ini yang disebut dengan win-win solution. (langsung deh sebagian karyawan berteriak dengan muka garang “GAK GITU LAH..Kami Tidak Setuju! Kami tidak mau tahu! Gaji Kita Tetap Harus Naik Dengan Signifikan!!”)

Ketiga, Karena Prestasi. Biasanya, karena hasil dan prestasi yang gemilang, karyawan diapresiasi dengan gaji yang lebih baik. Bahkan dalam system penggajian, dikenal system pembayaran gaji berdasarkan 3P (Pay for person, pay for position and Pay for performance).

Mari Basmi Mentalitas Konsumtif!

Mari kita balik ke perbincangan awal kita.

Kecenderungan psikologis karyawan tatkala gajinya naik adanya mulai berpikir pengeluaran yang bermacam-macam. Yang belum punya, mau di beli. Yang sudah ada, mau diupgrade. (Yaa… Saya juga ngalamin sih.. tapi lama kelamaan “Pucing pala belbi”). Akibatnya, ini menjadi sumber ketidakpuasan. Juga hehe bisa jadi sumber mulai tidak produktifnya seorang karyawan. Setelah gajinya naik, umumnya produktivitas akan naik. Tapi……hanya sementara. Setelah itu merekapun mulai kembali kepada kebiasaan lamanya. Bekeluh kesah soal gaji yang kurang.

Hingga tiba saatnya, gaji mereka dinaikkan kembali, merekapun menjadi senang untuk sementara waktu. Tapi, inipun tidak lama, pada akhirnya mereka pun akan merasa gajinya kurang lagi. Dan.. begitulah sikus “komplain kurangnya gaji” ini akan selalu terjadi sampai menyaingi episode sinetron tukang haji naik bubur yang sudah melebihi 1000 episode.

Padahal, sebenarnya gaji mereka tidak sekurang yang ia keluhkan. Apalagi kalau bisa dibandingkan dengan gaji mereka-mereka yang nilainya lebih rendah. Toh, dengan gaji yang lebih kurang, ternyata mereka sanggup mencukupkan kebutuhan hidup mereka (bahkan mereka menanggung beberapa anak).

Tapi ya tadi, namanya membandingkan hidup, selalu perbandingannya dengan yang atas, dengan gaji dan keuangannya lebih baik. Akibatnya ya.. karyawan pun terus-menerus merasakan kekurangan.

“Hhmm.. Yang penting, bukanlah berapa uang yang kamu terima. Namun berapa uang yang sanggup kamu tabung atau sisihkan.”

Jadi, sekali lagi jangan dulu senang ketika gaji kita naik! Masalahnya, apakah mental kita sudah siap dengan berbagai keadaan mencekam yang akan mengikuti setelah kenaikan gaji tersebut?

 

#LifeIsFun

 

Ahmad Madu

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *